Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 Februari 2011

Seni Budaya dan Kriteria Kesenian Islami Fiqih Kontemporer

Oleh: Dr. Setiawan Budi Utomo


Konser Nasyid

dakwatuna.com – Seiring dengan kian maraknya produk nasyid dan lagu-lagu lokal maupun impor yang dikategorikan sebagai representasi seni bernafaskan Islam, baik dalam berbagai bentuk media antara lain kaset, CD, pentas seni, album grup nasyid; kreativitas seni yang ‘bernafaskan Islam’ dipertanyakan. Hal itu sejalan dengan meningkatnya animo masyarakat muslim untuk memiliki identitasnya dalam kesenian. Namun, karena tidak jelasnya rambu-rambu syariah tentang seni sehingga banyak timbul penyimpangan dari segi lirik, gaya maupun cara penyajian, seperti pengkultusan manusia, aroma aqidah yang tidak sesuai dengan ahlus sunnah wal jama’ah (aqidah salaf), dominasi suara irama musik. Meskipun begitu, karena minimnya produk album yang murni islami, masyarakat terpaksa membeli album-album tersebut asal masih bernuansa dzikir, dakwah dan nasehat. Persoalan yang sering menjadi perdebatan adalah adakah hubungan Islam dengan seni, apakah sebenarnya yang dinamakan seni Islami dan bagaimanakah rambu syariah yang dapat memilahkan dan mengambil sikap antara seni islami dengan jahiliyah. Dapatkah kita katakan bahwa al-Qur’an adalah wahyu yang mengajarkan seni agung di samping petunjuk hidup.

Islam adalah dien al-fitroh, seluruh ajarannya berjalan harmonis dan selaras dengan naluri dasar dan kesiapan manusia bahkan prinsip-prinsip dan kaedah-kaedah syari’ahnya memenuhi hajat hidup manusia dalam berbagai aspeknya. Firman Allah swt. yang artinya : “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); Fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” ( QS. 30:30 )

Al-Imam Al-Ghozali menjelaskan bahwa Allah swt. telah memberi manusia akal dan pancaindera. Tiap-tiap dari pancaindera itu ingin menikmati sesuatu menurut nalurinya masing-masing. Umpamanya, penglihat ingin menikmati sesuatu yang indah; pendengar, ingin mendengarkan sesuatu yang merdu dan nyaring. Jadi tidak masuk akal bila semua pemandangan, tontonan/hiburan kesenian dan berbagai apresiasi estetika dihalangi dalam Islam. Namun naluri pancaindera itu jangan dibiarkan berjalan sekehendaknya, melainkan harus dikontrol dan disalurkan ke jalan yang baik. (Ihya Ulumuddin,VI/136-169) Rasul pun menyatakan bahwa naluri estetika tidak bertentangan dengan Islam bahkan disukai dan menjadi bagian kehidupan integralnya dengan sabdanya, “Allah itu indah dan menyukai keindahan ” (HR. Muslim).

Prof. Mahmoud Syaltout dalam bukunya Al-Fatawa (hal. 375-380) menegaskan bahwa syari’at Allah tidak membunuh naluri (ghorizah/instink) manusia tetapi dirawatnya, karena manusia tidaklah bisa melaksanakan tugasnya di dalam dunia ini tanpa mempergunakan naluri panca inderanya. Tidaklah masuk akal sama sekali bahwa Allah dalam memberikan perintah-perintah-Nya kepada manusia harus pula membunuh nalurinya, tetapi yang logis adalah kekuatan dan tenaga naluri itu harus dipergunakan dan disalurkan kepada yang wajar sebagaimana yang diridhai Allah.

Berbicara masalah seni sebagai manifestasi dari sebuah apresiasi, kreasi dan ekspresi gagasan, emosi dan ide tidak bisa terlepas dari nilai, norma dan etika. Sebab tiada satu pun aktivitas dinamika kehidupan manusia yang bebas nilai dan norma, termasuk kegiatan dunia seni yang tidak dapat dihindarkan dari muatan motivasi, pesan ajaran, dan idealisme yang melatarbelakangi semua itu dari lingkungan sosio kulturalnya.

Dewasa ini tengah berlangsung -disadari atau tidak- suatu kemelut yang berhubungan dengan masalah tradisi dan kebudayaan. Kemelut ini bergejolak di seluruh negeri-negeri Islam yang merupakan suatu realisasi pertarungan hak dan batil, antara nilai-nilai islami dan jahili, antara fitrah kesopanan dan nafsu urakan. Kemelut ini sebenarnya telah berlangsung lama, sejak kelahiran anak Adam as. di muka bumi dan tiada henti-hentinya sampai kiamat. Prof. Dr. Muhammad Quthb menggambarkan betapa pertarungan tersebut hebat sekali. Arenanya meliputi semua lapangan kehidupan; di rumah, di jalan, di tempat hiburan dan sekolah, di bis dan kendaraan umum lainnya, dalam majalah dan surat kabar, dalam ceramah-ceramah dan buku-buku, di pedesaan dan di perkotaan. Pemeran dan pelakunya adalah para generasi muda, putra-putri, orangtua, para pengajar dan pelajar, para pengarang dan pemikir, pria dan wanita bahkan semua manusia ikut terlibat dengan kemelut ini.(Ma’rokah At-Taqolid, hal.2)

Fenomena pertarungan budaya ini semakin tragis dan parah semenjak dunia Islam terlena dan lelap dalam tidur selama lebih kurang dua abad dan yang paling dahsyat, sejak kejatuhan negeri-negeri Islam ke tangan kaum imperialis Barat pada abad XIX M ( XIII H ). Hal itu sebagai efek kejumudan (stagnasi) umat dalam bidang mental, spiritual, cita rasa, pemikiran dan kreasi. Kebekuan yang telah mengubah karya dan upaya generasi sebelumnya menjadi monumen mati tanpa ruh dan lebih suka menirukan dan menelan budaya asing, tanpa berdaya membuat terobosan dan gebrakan baru sebagai alternatif islami bagi dinamika perubahan zaman di tengah-tengah kekacauan nilai.

Pada gilirannya, umat Islam khususnya generasi mudanya terlanjur sulit melepaskan diri dari seni budaya materialistis sekuler Barat karena telah merasuk ke dalam dirinya. Tidak mengherankan lagi bila mereka tergila-gila dan menggandrungi para seniman Barat begitu ‘ngefans‘ dan mengidolakan berbagai group band dan musik serta personilnya seperti, Madonna, Mick Jagger, Jason Donovan, Bon Jovi, Rod Stewart, Michael Jackson, Tommy Page dan masih banyak idola-idola lainnya baik di bidang film, musik maupun seni lainnya. Sangat disayangkan, sementara itu pemikiran dan kehidupan mereka jauh dari nilai-nilai Islam. Idola-idola semu mereka tersebut lebih lekat di benak kawula muda Islam lengkap dengan ulah dan lika liku hidupnya. Bahkan sudah lebih lekat dari pada nama-nama para Nabi dan Rasul, para pemikir dan ulama Islam serta budayawan dan seniman muslim masa kini dan yang lampau. Mereka lebih hafal dan fasih dengan lagu-lagu dan film-film ‘asing’ yang urakan ketimbang membaca surat Al-Fatihah. Sungguh memalukan dan memprihatinkan bila kondisi generasi kita telah terjangkit kronis penyakit ‘demam asing’ asal trendi, gandrung dengan produk seni budaya yang asing dari nilai-nilai Islam dan budaya kesopanan Timur sebagai korban dari Ghazwul Fikri suatu upaya bertahap pemurtadan umat Islam dan pengasingan nilai-nilai Islami.

Sebagai akibat kejatuhan politik dan peradaban Islam pada abad XIX Masehi, pola dominasi Barat telah banyak mempengaruhi dan menguasai kehidupan sosial, politik, ekonomi, budaya dan berbagai aspek lainnya. Dalam mempengaruhi pola pikir dan budaya umat Islam, mereka menggunakan segala cara yaitu media cetak, elektronik, panggung, podium dan banyak media massa dan komunikasi lainnya. Selanjutnya, seni budaya Islam mengalami kristalisasi (idzabah/peleburan) dan memasuki proses akulturasi dengan kesenian dan kebudayaan Barat yang berakibat hilangnya unsur ashalah dari yang dinamakan seni dan budaya Islam.

Umat Islam semakin sulit dan hampir tidak bisa mengidentifikasi hasil seni budaya yang pantas untuk budaya kesopanan bangsa Timur apalagi yang sesuai dengan ketentuan dan ajaran Islam karena kepribadian dan pemikiran mereka sudah menjadi ‘Barat’ atau ‘Semi Barat’. Oleh karenanya, mereka mencoba mereka-reka sendiri apa yang dinamakan seni budaya Islam. Klasifikasi dan identifikasinya berdasarkan asumsi kabur dan kriteria yang tidak jelas, serba samar-samar dan batasan yang transparan, sangat tipis, longgar dan lemah sebatas pengetahuan mereka yang minim/awam dan dangkal tentang disiplin keislaman. Ironis memang namun sudah jamak bila sering terjadi di masyarakat kita tradisi salah kaprah dalam menilai dan menyajikan sebuah seni Islam. Maka setiap karya budaya dan segala bentuk apresiasi seni yang asalkan sudah menyebut lafazh, istilah, idiom, gaya dan berbagai atribut keislaman lainnya dan dipoles dengan sebutan dan sentuhan warna dan nuansa keislaman, sudah dapat dikategorikan dan dinamakan “seni Islam” atau “seni budaya yang bernafaskan Islam.” Padahal, setelah dikaji lebih matang dan cermat ternyata hakikatnya baik dari faktor penunjangnya maupun unsur substansial dan essensialnya juga muatan materi dan cara penyajiannya sudah menyimpang dari ketentuan syariah Islam. Seni budaya kita telah terkontaminasi oleh seni budaya materialis, liberalis dan permissivis “Barat” atau terrembesi oleh seni budaya sinkritis pluralis “Timur” yang masih tersisa akar-akar tradisi animisme, dinamisme, hinduisme, budhaisme, feodalisme, kebatinan, dunia dewataisme kultus figur dan penyimpangan lainnya. Jadi, sebenarnya kita lebih sering terjebak dengan tradisi dan budaya ‘polesan‘ yang mungkin karena pertimbangan komersial, faktor keawaman ataupun pemaksaan image tanpa didukung penghayatan nilai dasar keislaman.

Seni secara umum merupakan penjelmaan rasa indah yang terkandung dalam jiwa manusia, dilahirkan dengan perantara alat komunikasi ke dalam bentuk yang dapat ditangkap oleh indera pendengar (seni suara) penglihatan ( seni tulis/lukis) atau dilahirkan dengan perantara gerak (seni tari, drama)” , menurut hemat saya, belum dapat dikatakan representatif dan komprehensif yang mencakup dan mewakili semua unsur esensial dan substansial dari seni itu sendiri. (Ensiklopedi Indonesia, V / 3080, 3081)

Seni menurut Islam hakikatnya sebuah refleksi dan ekspresi dari berbagai cita rasa, gagasan dan ide sebagai media komunikasi yang bergaya estetis untuk menggugah citarasa inderawi dan kesadaran manusiawi dalam memahami secara benar berbagai fenomena, panorama dan aksioma yang menyangkut dimensi alam, kehidupan, manusia dan keesaan/keagungan rabbani berdasarkan konsepsi ilahi dan nilai-nilai fitri yang tertuang dan tersajikan dalam bentuk suara/ucapan, lukisan/tulisan, gerak dan berbagai implementasi dan apresiasi lainnya. Seni realitanya sebagai suatu media komunikasi, interpretasi, sekaligus kreasi. Maka dalam menilai sebuah apresiasi seni tidak dapat dielakkan dari unsur-unsur dan dimensi-dimensi integralnya yang menyangkut; keyakinan, ideologi, motivasi, pola pikir, kepekaan, kepedulian, arah dan tujuan di samping aspek gaya dan estetikanya. Oleh karenanya, tiada satu pun bentuk apresiasi dan karya seni yang bebas nilai. Maka dalam menilai satu seni sebagai seni Islam diperlukan kriteria dan rambu-rambu syariah yang jelas sehingga dapat mudah membedakan dan memilahkannya dari kesenian jahiliah meskipun bernama ataupun menyebut lafal keislaman.

Di antara kaedah-kaedah dan kriteria tersebut adalah: 1.Harus mengandung muatan pesan-pesan hikmah kebijakan dan ajaran kebaikan di antara sentuhan estetikanya agar terhindar laghwun (perilaku absurdisme, hampa, sia-sia) 2.Menjaga dan menghormati nilai-nilai susila Islam dalam semua segi sajiannya. 3.Tetap menjaga aurat dan menghindari erotisme dan keseronokan. 4. Menghindari semua syair, teknik, metode, sarana dan instrumen yang diharamkan syari’at terutama yang meniru gaya khas ritual religius agama lain (tasyabbuh bil kuffar) dan yang menjurus kemusyrikan. 5.Menjauhi kata-kata, gerakan, gambaran yang tidak mendidik atau meracuni fitrah. 6.Menjaga disiplin dan prinsip hijab dan 7. Menghindari perilaku takhonnus (kebancian) dan sebaliknya. 8. Menghindari fitnah dan praktek kemaksiatan dalam penyajian dan pertunjukannya. 9. Dilakukan dan dinikmati sebatas keperluan dan menghindari berlebihan (israf dan tabdzir) sehingga melalaikan kewajiban kepada Allah. (Abdurrahman Aljaziri dalam Al-Fiqh ‘alal Madzahibil Arba’a, II/ 42-44, Dr. Yusuf Al-Qordhowi dalam Al Halal Wal Haram fil Islam, hal. 273-276)

Menurut Islam seni bukan sekadar untuk seni yang absurd dan hampa nilai (laghwun), keindahan bukan berhenti pada keindahan dan kepuasan estetis. Sebab semua aktivitas hidup tidak terlepas dari lingkup ibadah yang universal. Seni Islam harus memiliki semua unsur pembentuknya yang penting yaitu; jiwanya, prinsipnya, metode, cara penyampaiannya, tujuan dan sasaran. Motivasi seni Islam adalah spirit ibadah kepada Allah, menjalankan kebenaran (haq), menegakkan dan membelanya demi mencari ridha Allah swt. bukan mencari popularitas ataupun materi duniawi semata. Seni Islam harus memiliki risalah dakwah melalui sajian seninya yaitu melalui tiga pesan :

1.Tauhid; dengan menguak dan mengungkap kekuasaan, keagungan dan transendensi (kemahaannya) dalam segala-galanya, ekspresi dan penghayatan keindahan alam, ke-tak-berdayaan manusia dan ketergantunganya terhadap Allah, prinsip-prinsip uluhiyah dan ‘ubudiyah.

2. Insaniyah dan Inqodz al-Hayah (menyelamatkan hak-hak asasi manusia dan kehidupan alam) seperti; mengutuk kezhaliman/penindasan, penjajahan, perampasan hak, penyalahgunaan wewenang dan kekuasaan, memberantas kriminalitas, kejahatan, kebodohan, kemiskinan, perusakan lingkungan hidup, menganjurkan keadilan, kasih sayang, kepedulian sosial-alam dan sebagainya.

3. Akhlaqiyah dan Ta’alim Islam (kepribadian/akhlaq, konsep dan praktek ajaran Islam) seperti; tema kejujuran, pengabdian, pengorbanan, kesetiaan, kepahlawanan/ kesatriaan, solidaritas, kedermawanan, kerendahan hati, keramahan, kebijaksanaan, perjuangan/kesungguhan, keikhlasan dan seterusnya. Juga penjelasan nilai-nilai keislaman dalam berbagai segi seperti sosial keluarga dan kemasyarakatan, pendidikan, ekonomi, politik dan seterusnya.

Dari semua tema dan pesan-pesan di atas dapat mengambil contoh-contoh dari peristiwa-peristiwa aktual maupun saksi dan fragmen kehidupan sejarah masa lampau ataupun kisah fiktif yang tidak bertentangan dengan kaidah syar’i dan melewati batas-batas kewajaran. Dalam presentasinya dapat diperkaya dengan hikmah ayat-ayat, hadits-hadits, sirah rasul serta ujar para ulama dan warisan bijak tradisional.

Wahyu Islam Al-Qur’an Al-Karim, memang tampil sebagai sajian agung (ma’dubatur rahman) yang menggarap semua nilai-nilai keagungan. Jika ada sesuatu yang bisa dikatakan sebagai seni, maka Al-Qur’an adalah mahaseni. Dan jika pikiran muslim telah dipengaruhi oleh sesuatu maka sesuatu itu adalah Al-Qur’an. Jika pengaruh tersebut cukup dalam sehingga bersifat konstitutif dalam setiap segi, maka demikian pula dalam segi estetika. Tidak ada manusia muslim yang tidak tersentuh lubuk hatinya, citrarasa dan kesadarannya oleh irama, sajak dan segi-segi kefasihan (aujuh balaghoh) Al-Qur’an; Tidak ada muslim yang norma-norma dan standar-standar keindahannya tidak dibentuk kembali oleh Al-Qur’an dan citranya sendiri.

Aspek dari Al-Qur’an inilah yang disebut i’jaz nya atau “kekuatannya yang menaklukkan”, “kemampuannya untuk menantang pembaca tanpa bisa ditandingi olehnya.” Dalam kenyataannya, Al-Qur’an telah menantang para pendengarnya, orang-orang Arab dengan ketinggian sastra mereka, untuk menghasilkan sesuatu yang serupa dengan Al-Qur’an” baik segi santun bahasa maupun bobot isinya (QS. Al-Baqarah:23-24) dan sekaligus membungkam mereka karena ketidakmampuan dan berdayaan mereka melakukan hal itu (QS 10:38 ; 11:13 ; 17:88 ). Sebagian dari musuh-musuh Islam di zaman Nabi ada yang memaksakan diri menjawab tantangan tersebut dan hasilnya dipermalukan oleh penilaian lawan-lawan mereka dan juga kawan-kawan mereka sendiri. (Abdul Qadir Al-Jurjani dalam Dalail Al-I’jaz )

Setiap orang mengakui bahwa meskipun ayat-ayat Al-Qur’an tidak mengikuti pola-pola puisi konvensional, namun ayat-ayat tersebut menghasilkan efek yang sama dengan puisi bahkan pada tingkat yang paling tinggi. Setiap ayatnya adalah lengkap dan sempurna menjadi satu kesatuan yang harmonis (wihdah maudhu’iyah wa jamaliyah) yang kaya akan nilai ungkapan-ungkapan sastra atau artikulasi yang hidup, menyentuh, indah dan agung. Demikian kuat momentum yang dihasilkannya hingga pembacanya akan tertarik hanyut bersamanya tanpa dapat menahan dirinya, menantikan ayat berikutnya dan terpaku diam ketika mendengarnya. Proses ini berulang lagi dengan ayat-ayat berikutnya. (Lihat, Al Ishfahani dalam Kitab Al-Aghoni dan Sayyid Qutb dalam Tashwiiru Al Fanni Fil Qur’an dan Masyahidul Qiyamah). Estetika dan harmoni seni Islam tidak saja mewarnai ayat-ayat Qur’aniyah, lebih jauh seni Islam terhampar pada gelaran jagad raya yang tiada cacatnya. Semuanya Allah ciptakan dengan kecermatan yang sempurna, tidak ada segi dan unsurnya yang sia-sia atau kerancuan (bathilah) semua serba melengkapi dan mendukung membentuk kesatuan fitrah panorama yang indah (QS 3:190-191).

Dengan demikian generasi muslim dapat membuktikan kesanggupan dan kesiapannya untuk mewarisi karya jenius seni dan kebudayaan Islam dari para perintis seni budaya Islam yang agung serta mengubur anggapan gagalnya proses upaya regenerasi seni budaya Islam seperti pernyataan Richard Ettinghausen dalam bukunya,” The Character of Islamic Art, The Arab Heritage (hal. 251-267 ). Namun, pada saat dinamika kreativitas dunia seni Islam baru dalam tahap mulai merangkak kembali; pada saat para seniman, kaum intelektual dan generasi muslim yang berorientasi dan berobsesi mewujudkan dan menghadirkan kembali seni budaya Islam yang selalu aktual masih langka; pada saat segenap perangkat dan daya dukung pembentukan seni budaya Islam belum mendapatkan tempat dan kesempatan yang layak untuk hadir di tengah-tengah umat, pada saat masyarakat pada umumnya belum akrab dengan nilai budaya Islam kita tidak perlu bingung, meratap dan putus asa yang berakibat kepasrahan ataupun kekalahan sebab, sajian seni aksiomatik ayat-ayat Qur’aniyah dan panorama estetika alamiah sudah lama menunggu dan selalu siap hadir menjadi alternatif dasar fitri dengan kekayaan nilai, potensi dan keindahannya karena bersumber dari Yang Maha Indah untuk memenuhi hajat naluri kemanusiaan kita dan tidak akan kehabisan unsur, materi dan sentuhan aktualitas, variasi dan estetika tanpa harus menabrak rambu syariah dalam bidang seni seperti di atas. Wallahu A’lam. Wabillahit Taufiq wal Hidayah.

HTTP://WWW.DAKWATUNA.COM/2009/SENI-BUDAYA-DAN-KRITERIA-KESENIAN-ISLAMI/

SENI BUDAYA ISLAM Transformasi Tradisi dan Indahnya Beragama


Oleh Ardus M Sawega

Bau rokok klembak-kemenyan mendadak menusuk hidung ketika serombongan orang desa—lelaki, perempuan, dan anak-anak—yang bersahaja turun dari bus kecil di Balai Soedjatmoko, Solo, Jumat (11/9) silam. Selain bersarung dan merokok klembak, keunikan warga Dusun Tempel di ketinggian 2.900 meter Gunung Merbabu itu adalah ritual ”Suluk Sewelasan”, tradisi yang mereka pegang teguh sejak 11 November 1955.

Ritual Suluk Sewelasan oleh kelompok tarekat Qodriyah Naqsabandiyah dari Dusun Tempel, Ngampel, Boyolali, Jawa Tengah, ini tampil dalam Festival Seni Budaya Islam yang berlangsung pada 10-13 September 2009 di Balai Soedjatmoko.

Festival ini menampilkan delapan kelompok dengan corak dan tradisi yang berbeda. Ini mencerminkan keberagaman aliran Islam yang berkembang di Indonesia sekaligus menampakkan ”wajah” Islam yang telah beradaptasi dengan budaya lokal. Ada Suluk Sewelasan yang bersahaja, santiswaran, hadrah, hingga nasyid yang ngepop.

Zuly Qodir, pengajar pada Program Pascasarjana UGM, Yogyakarta, menegaskan, itu merupakan fakta yang tak terbantah dalam perkembangan Islam di Jawa. ”Berbagai bentuk seni budaya Islam yang berkembang di Jawa tak terdapat di Arab sana,” katanya.

Suluk Sewelasan tergolong ritual yang sudah langka dalam tradisi budaya Islam di Jawa. Tradisi yang dibawa dari Persia ini untuk memperingati hari lahir Syekh Abdul Qadir Jaelani, tokoh sufi dari Baghdad, Irak, yang jatuh pada tanggal 11 (sewelas).

Suluk ini, dalam bahasa Jawa dan Arab, terdiri dari salawat dan zikir—zikir zahir (fisik) dan zikir sirri (batin). Ketika zikir mereka terdengar mirip dengungan, orang-orang itu seperti ekstase. Jari tangan tak henti memetik butir tasbih. Ketika jari berhenti, zikir dilanjutkan di dalam batin. Pada titik ini terjadi ”penyatuan” dengan Yang Maha Esa.

Sesepuh Kelompok Sewelasan, Hadisumarsono (73), menjelaskan, suluk ini merupakan sarana bagi jemaah untuk menyatukan diri dengan Tuhan. ”Lewat suluk ini akan mempertebal keyakinan kepada Allah SWT sehingga terjadi manunggaling raos dumateng Gusti,” tuturnya.

Medium Jawa

Ritual Suluk Sewelasan itu dinyatakan sebagai meneruskan tradisi sejak zaman para wali. Mereka mengaku sebagai ”Jawa deles” (sejati) karena itu mereka memakai bahasa Jawa dalam salawatan sebab bahasa Jawa dianggap lebih bisa mengartikulasikan gerak batin mereka. Adapun surat Al Quran dan hadis menggunakan bahasa Arab.

Suluk Sewelasan diawali: Dedalane slamet iku ana lima/Sapa kang nglakoni iku bakal beja/ Kaping pisan taat Allah Kang Kuasa/Kaping pindo taat maring Nabiira/Kaping telu tunduk prentahe negara/Prentahe kang ora nglanggar ing agama/Kaping papat budi luhur tata krama/Kaping lima ilmu amal kang piguna//.

Salawat di atas maknanya adalah pedoman bagi umat Islam; taat kepada Allah, taat kepada Nabi, tunduk kepada negara, berbudi luhur dan tata krama, serta mengamalkan ilmu yang bermanfaat bagi kehidupan.

Tradisi budaya Islam di Jawa banyak yang memakai bahasa Jawa sebagai media komunikasi. Bahasa Jawa yang digunakan cenderung sederhana dan merefleksikan pemahaman tentang agama yang tak kelewat muskil, tetapi justru menjelma menjadi penghayatan yang personal.

Dengarlah bawa ”Rukun Islam” oleh Kelompok Rodhat Lesung dari Sragen ini: …Rukun Islam kang lima puniku/katindakna ing para sesama/aja pada ditinggalke/ Rukun lima puniku, syahadate kang angka siji, kang angka loro sholat/dene kang katelu Romadhon nindakake pasa/papat zakat, ping lima ngibadah haji/rukun Islam sampurna//.

Seni rodhat, yang dicirikan oleh penari putri berkacamata hitam, kali ini diwakili enam waria yang tampil kemayu dan menjadikannya sebagai pertunjukan yang rancak. Dengan iringan lesung, terbang dan tambur, diiringi salawat berbahasa Jawa yang bersahutan dengan senggakan spontan, Rodhat Lesung membuktikan bahwa dakwah dan syiar agama bisa sampai ke publik lewat kesenian rakyat yang komunikatif.

Menurut budayawan MT Arifin, Islam yang beradaptasi dengan kebudayaan Jawa itu dirintis Sunan Bonang lalu dilanjutkan oleh Sunan Kalijaga. ”Islam yang berkembang di Indonesia kebanyakan beraliran sufi atau tasawuf karena itu memang lebih mengena dengan kultur masyarakat setempat, terutama di Jawa,” ungkapnya.

Dalam bentuk seni musik, adaptasi Islam dalam Jawa itu juga terekspresikan lewat santiswaran (lagu puji-pujian), yang merupakan paduan antara hadrah dan karawitan Jawa sehingga menghasilkan musik yang indah.

Dengarlah terjemahan surat Al-Alaq, yang bercerita tentang turunnya wahyu Al Quran yang diterima Nabi Muhammad di Goa Hira, dalam tembang Mijil yang dibawakan oleh Kelompok Santiswaran Larasmadya ”Wening Ati” (Solo) ini.

Tumurune roh Al-Quran suci ing wulan Romadhon/amung limang ayat kawitane/ aneng guwa Hira ingkang sepi/Alantaran Jibril wahyu kang dumawah/suratira Al Alaq sayekti, dawuh ingkang maton/alantaran Jibril tumurune/Wus tinampi dening Kanjeng Gusti/duk amesu budi rikala mahengkung/manahira lir bendah rinujit, sedih aneng batos/dupi anguningani pratengkahe kafir Kures kang sangsaya ndadi/brahala den pundi, o srikendel arum/Allah paring panglipuring ati, Al-Quran kawiyos/ pinaringaken maring utusane/Kanjeng Nabi Muhammad sayekti/pungkasaning nabi, panutupe rosul//.

Transformasi

Tradisi seni budaya Islami tampaknya terus berkembang di Jawa sekalipun mengalami transformasi. Bentuk ritual tradisional berubah mengikuti aspirasi zaman. Sebagian jadi kontemporer, bahkan ngepop, tetapi napas agama tetap kental.

Kelompok Wireng Santi Guna dari Baluwarti Solo, misalnya, menyajikan santiswaran yang sebagian repertoarnya mengacu pada tradisi keraton. Namun, mereka juga menggubah repertoar baru yang bertema kerukunan beragama; mengingatkan tentang pluralitas di masyarakat. Kelompok ini merupakan ”pembauran” karena anggotanya—separuhnya ibu-ibu—terdiri dari beragam pemeluk agama; ada Islam, Katolik, Kristen, Hindu, dan Buddhis.

”Sejak terbentuk tahun 2004, kelompok santiswaran ini kami jadikan sebagai sarana untuk menumbuhkan kerukunan beragama dalam lingkungan warga masyarakat. Rasanya lebih indah kalau tumbuh kerukunan di antara umat beragama walau kita menyadari satu sama lain berbeda,” tutur MT Supriyanto, pimpinannya.

Keindahan serupa kita rasakan pada anak-anak muda yang memilih bentuk nasyid, seperti Kelompok Zukhruf (Solo) ini: Ayolah semua budayakan salat/untuk memperkuat jati diri kita sebagai umat-umat Muhammad/penerus risalah dalam Islam/Lemparkan sauh di pantai/pertanda kapal layar akan berlabuh/Itulah kita, umat Muhammad mencapai Islam ke permukaan/Assalamualaikum… /salam membawa rahmat dan doa/membawa kita pada maslahat/mencapai mulia saat bersua/meningkatkan ukhuwah Islamiah. (EKI/SON)

Kamis, 03 Februari 2011

Umur Alam Semesta

Secara ringkas, umur elemen kimia dapat diperkirakan berdasarkan uji radio aktif terhadap atom tersebut. Dan umumnya dapat ditentukan dengan menggunakan uji contoh batubatuan, yaitu dengan mengukur perubahan elemen berat seperti Rubidium Rb-87. Bila uji Rubidium ini diterapkan atas batuan yang tertua di bumi akan didapatkan bahwa batuan tertua berumur 3,8 miliar tahun. Jika diterapkan atas batuan tertua dari meteor akan didapatkan angka 4,56 miliar tahun. Kesimpulan ini membuktikan bahwa tata surya kita berumur sekitar 4,6 miliar tahun, dengan tingkat kesalahan 100 juta tahun. Sedikit berbeda, bila metode ini digunakan untuk mengukur gas di alam semesta maka akan menyebabkan tingkat variasi yang lebih lebar. Ilmuwan cukup puas mengetahui umur alam semesta sejak Dentuman Besar dengan perhitungan elemen kimia yaitu
antara 11-18 miliar tahun.

Mohamed Asadi dalam bukunya The Grand Unifying Theory of Everything mengatakan bahwa umur alam semesta, berdasarkan penyelidikannya terhadap bintang-bintang tertua, adalah antara 17 sampai 20 miliar tahun. Sedangkan Profesor Jean Claude Batelere dari College de France menyatakan bahwa umur alam semesta kira-kira 18 miliar tahun.

Dalam al-Qur'an ada dua ayat yang mengindikasikan perhitungan alam semesta selain makna relativitas waktu, yaitu Surat as-Sajdah (32:5) dan al-Ma'arij (70:4).

"Malaik at-malaika t dan Jibril naik (menghadap) keyada Tuhan dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun" (al-Ma'arij 70 : 4)

Kita dapat mencatat bahwa al-Qur'an tidak mengatakan "50.000 tahun" waktu bumi. Karena waktu ini adalah waktu relatif di suatu tempat di langit, di mana satu hari sama dengan 1000 tahun waktu bumi. Hari relatif tersebut merupakan umur alam semesta di mana sistem tata surya manusia (kita) berada.

Mari kita konversikan waktu relatif alam semesta:

50.000 x 365,2422 = 18.262.110

Satu hari relatif di "satu tempat" di alam semesta, di tempat malaikat melaporkan urusannya, sama dengan 1000 tahun di bumi:

18.262.110 x 1000 = 18.262.211.000 tahun atau 18,26 miliar tahun.

Dengan demikian, umur alam semesta relatif adalah 18,26 miliar tahun. Hasilnya hampir sama dengan perhitungan Profesor Jean Claude Batelere dari College de France tersebut di atas.

NASA memperkirakan umur alam semesta antara 12-18 miliar tahun berdasarkan pengukuran seberapa cepat alam semesta kita ini ekspansi setelah terjadinya "Dentuman Besar"

Dr. Marshall Joy dan Dr. John Carlstrom dari Universitas Chicago (tim NASA) telah mampu mengatasi masalah pengukuran kecepatan ekspansi alam semesta dengan teknik terbaru, yaitu menggunakan radio interferometer untuk menyelidiki dan mengukur fluktuasi Cosmic Microwave Background Radiation (CMBR). Dengan demikian, umur alam semesta dapat diperkirakan. Sedangkan tim NASA lainnya memperkirakan umur alam semesta antara 8-12 miliar tahun berdasarkan pengukuran jarak galaksi "M100" dengan teleskop ruang angkasa Hubble. Galaksi tersebut diperkirakan berjarak 56 juta tahun cahaya dari bumi. Namun demikian, pengukuran umur alam semesta ini menimbulkan pertanyaan, bagaimana mungkin alam semesta umurnya lebih muda, padahal salah satu bintang di Bima Sakti mungkin umurnya jauh lebih tua dari perkiraan
tersebut?

Antisipasi ke Depan atau Catatan Sebelumnya

AI-Qur'an dalam pengajarannya bukan saja dengan kalimat (teks) tetapi juga dengan hitungan, hitungan yang membahas berbagai hal. Perbandingan luas lautan dengan daratan, dampak pemanasan global (global warming), kecepatan cahaya, dan umur alam semesta: berdasarkan informasi-informasi yang disajikan oleh ayat-ayat al-Qur'an. Bila al-Qur'an seolah-olah mengantisipasi ke masa depan, itu adalah semata-mata perspektif manusia. Sebab dalam pandangan al-Qur'an, semua kejadian di bumi, sesungguhnya telah tercatat dengan baik di dalam Kitab Utama, Pusat Arsip, atau Lauh Mahfuzh, sebelum kejadian tersebut berlangsung

AI-Qur'an adalah Kebijakan Abadi

Setiap ayat, bahkan jumlah ayat atau kata, dan nama surat merupakan kebijakan abadi. Ia mempunyai beberapa lapisan pengertian, sesuai dengan tingkat ilmu pengetahuan manusia yang membacanya.

Kita lihat, misalnya, salah satu ayat dari Surat ar-Rahman, yang membahas tentang air;

"Dia membiarkan kedua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu. Antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing"
. (ar-Rahman [55]: 19-20)

Sedikit penafsir yang mengartikan ini adalah tanah genting yang tidak terlihat. Penafsir lainnya menyebutkan bahwa air tawar di sungai dan air asin di lautan bertemu namun tidak saling melampaui karena perbedaan kepekatannya. Sampai di sini terjemahan belum bermasalah. 

Fenomena menarik adalah apa yang diungkapkan oleh seorang ilmuwan Prancis Jacques Yves Cousteau yang meneliti berbagai lautan di dekat Selat Jibraltar, ditemukan bahwa pertemuan antara air dari Laut Mediteranian (Laut Tengah) dengan air dari Lautan Atlantik tidak bercampur, walaupun keduanya air asin. Salinitas yang berbeda menghasilkan "dam" yang tidak terlihat. Air Laut Tengah dengan salinitas di atas 36,5% dan temperatur sekitar 11,5 derajat Celsius, terisolasi di kedalaman 900 sampai 1100 meter. Sedangkan air yang berasal dari Lautan Atlantik mempunyai salinitas di bawah 35%, membungkus air Laut Tengah dengan temperatur di bawah 10 derajat Celsius.

Berikutnya adalah fenomena menarik tentang pembentukan mutiara.

"Dari keduanya keluar mutiara dan marjan" (ar-Rahman 55 : 22)

Para penerjemah dua puluh tahun yang lalu, dengan satu atau dua pengecualian, menerjemahkan "marjan" dengan "batu koral". Padahal mayoritas ahli tafsir mengartikan dengan marjan, yang mengandung mutiara kecil yang lebih berkilau. Tetapi ahli tafsir modern, misalnya Sayyid Quthb, berbicara tentang "batu koral". Disadari bahwa banyak ahli tafsir yang menghadapi persoalan dengan ayat ini. Menurut pengetahuan mereka pada waktu itu, mutiara hanya datang dari air laut. Padahal ayat ini barangkali menjelaskan bahwa mutiara bisa terbentuk baik di dalam air laut maupun air tawar. Bagaimana bisa? Abu Ubaidah, seorang penulis terdahulu, sangat yakin bahwa mutiara hanya datang dari air laut, sehingga ia mencoba berkelit untuk menafsirkan ayat
tersebut dengan sesuatu yang lain. Maka ia menulis, "Mutiara hanya datang dari salah satu nya".

Tetapi kini telah diketahui bahwa mutiara bisa terbentuk di dalam air tawar. Encyclopedia Britannica, Micropaedia 1977, menulis bahwa di sungai-sungai rimba Bavaria (Eropa) mutiara .libudidayakan. Bahkan budidaya mutiara air tawar di Cina telah dikenal sejak sebelum tahun 1000 SM.

Dengan demikian, pernyataan al-Qur'an dalam surat ini sesuai dengan arti harfiahnya, tanpa memerlukan penafsiran yang dipaksakan.

Apakah pembaca akan berhenti sampai di sini?

Kita beralih ke ayat al-Qur'an yang pembahasannya memerlukan pengetahuan astrofisika, gabungan astronomi, fisika dan matematika, yaitu Surat an-Nur atau yang berarti cahaya.

"Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumynmaan cahaya Allah adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus (misykat), yang didalamnya ada pelita besar. Pelita itu didalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan dan tidak pula di sebelah barat (nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walauyun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (an-Nur 24 : 35).

Esensi ayat ini adalah bahwa Tuhan adalah (satu-satunya) pemberi cahaya di alam semesta tanpa sentuhan api. Namun menyangkut perumpamaan, mufasir klasik menghadapi kesulitan untuk menjelaskan lebih rinci.

Dengan beberapa pengecualian mereka akan menjelaskan bahwa misykat , atau suatu lubang yang tidak dapat ditembus, adalah lubang di rumah-rumah untuk tempat lampu obor, yang ada di dinding rumah. Sedangkan pohon (zaitun) yang dimaksud adalah pohon (zaitun) yang tumbuh di bukit-bukit, sehingga sinar matahari dapat menyinari, baik pada saat matahari terbit maupun matahari terbenam.

Mufasir modern, seperti Malik Ben Nabi, menjelaskan bahwa misykat adalah lampu bohlam:

Pohon yang dimaksud adalah kawat wolfram yang berpijar karena efek listrik tanpa disentuh api, dibungkus gelas kaca, untuk memantulkan seluruh sinarnya ke segala arah sehingga dapat menerangi seluruh ruangan. Lampu bohlam adalah sekat yang tak dapat ditembus, karena hampa udara, tidak ada oksigen di sana.

Tetapi, dalam studi yang lebih mendalam tentang cahaya di langit oleh para astrofisikawan, misalnya Mohamed Asadi dalam bukunya The Grand Unifying Theory of Everything, perumpamaan ayat tersebut lebih mendekati kepada fenomena quasar dan gravitasi efek lensa yang menghasilkan cahaya di atas cahaya. Quasar atau Quasi Stellar adalah objek di langit yang ditemukan pertama kalinya pada tahun 1963. Mereka mewakili objek yang paling terang di alam semesta, jauh lebih terang dari cahaya matahari atau bintang. Para astronom menemukan bahwa objek "seperti bintang' ini terletak miliaran tahun cahaya dari bumi. Objek ini tentunya mempunyai energi yang besarnya sangat luar biasa supaya tetap terlihat dari sini. Energi mereka berasal dari "pusat lubang hitam yang sangat masif". Karakter pertama dari ayat ini yaitu misykat adalah "lubang hitam", sedangkan karakter kedua yaitu "pelita dalam kaca" adalah galaksi yang menghasilkan efek gravitasi lensa seperti quasar (pelita) yang terbungkus oleh kaca (gelas). Coba simak keterangan quasar oleh astronom NASA.

"Efek gravitasi pada galaksi, quasar yang jauh, serupa dengan efek lensa sebuah gelas minum yang memantulkan sinar lampu jalan yang menciptakan berbagai image (lapisan cahaya atas cahaya)" Energi quasar yang berasal (dicatu) dari lubang hitam, terjadi ketika "bintang-bintang dan gas" dari galaksi terhisap di dalamnya. Karakter lainnya yang disebut "pohon" oleh al-Qur'an adalah sebutan yang tidak lazim oleh para astronom yang menggambarkan galaksi sebagai "pohonpohon" yang terdiri dari bintang-bintang. Lihat saja istilah diagram HertzprungRussel, dalam buku Timothy Ferris, The Whole Shebang, 1997.

Barangkali, karakter lainnya yang menarik dari ayat di atas adalah pernyataan "diterangi tanpa tersentuh oleh api", suatu fenomena fusi nuklir yang menghasilkan cahaya yang sangat terang, di mana di ruang angkasa nyaris tidak ada oksigen untuk pembakaran. Bintang-bintang memulai hidupnya dengan unsur kimia yang paling ringan, yakni hidrogen. Gas berkontraksi, karena gravitasi, memanas; atom hidrogen bertumbukan dan membentuk helium, unsur yang lebih berat, ketika mengeluarkan energinya. Energi inilah yang membuat objek "bintang- bintang" bersinar tanpa "disentuh api", energi ini juga yang memelihara keseimbangan posisi bintang-bintang di alam semesta. Sepanjang pengetahuan manusia yang ada sekarang, fenomena quasar inilah yang paling tepat untuk menggambarkan ayat di atas. Terlebih lagi perumpamaan dalam ayat tersebut: "seakan-akan bintang yang bercahaya seperti mutiara". Bahkan aslinya lebih terang dari sinar bintang, dan memang seperti "mutiara" bila kita lihat dari foto-foto NASA yang ada, gemerlapan, sangat menawan.

Dengan demikian, terjemahan bebas ayat 35 Surat an-Nur dari sisi sains adalah:

"Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang (hitam) yang tak tembus (misykat), yang di dalamnya ada pelita besar (quasar). Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca (efek gravitasi lensa dari galaksi) itu seakanakan bintang (yang bercahay a) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan pohon (galaksi yang dicatu oleh lubang hitam) yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon(galaksi ) yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat (nya), yang minyakny a (fusi nuklir) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (efek gravitasi lensa), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia,dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu."

Rabu, 02 Februari 2011

Mushaf Utsmani Disimpan di Mana?

Banyak pertanyaan, di mana copy yang diberikan oleh Khalifah Utsman disimpan? Apakah masih ada? Menurut penjelasan The Institute of Islamic Information and Education of America, naskah tadi disimpan di Museum Tashkent di Uzbekistan, Asia Tengah. Sedangkan hasil copy fax ada di Perpustakaan Universitas Columbia di Amerika Serikat. Keterangan lebih lanjut menjelaskan bahwa copy tersebut sama dengan apa yang dimiliki pada zaman Nabi. Duplikat copy yang dikirimkan ke Syria pada masa Utsman juga masih ada di Topkapi Museum Istambul, duplikat ini dibuat sebelum terjadi kebakaran pada tahun 1892 yang menghancurkan mesjid Jami, di mana mushaf tersebut berada. Naskah yang lebih tua bisa ditemukan di Dar al-Kutub, Kesultanan Mesir. Sangat menarik, terdapat naskah yang disimpan di Perpustakaan Kongres di Washington, Chester Beatty Museum di Dublin (Irlandia) dan Museum di London-isinya tidak berbeda dengan apa yang terdapat di Mesir, Uzbekistan dan Syria. Sebelumnya juga terdapat 42.000 koleksi naskah kuno disimpan Institute for Koranforshung, University of Munich di Jerman. Namun, ketika Perang Dunia II, koleksi ini hancur karena dibom. Sejauh ini, berkat upaya para sahabat Nabi dan atas pertolongan Tuhan Yang Maha Esa, isi al-Qur'an, sejak zaman Nabi hingga sekarang tetap sama. Namun demikian, pertanyaan lainnya muncul. Jika ini semua otentik sesuai dengan aslinya, bagaimana kita yakin bahwa al-Qur'an berasal dari "Sumber Metafisis Tertinggi"? Sebagian besar kaum Muslim sangat yakin bahwa al-Qur'an adalah asli dari Tuhan, karena al-Qur'an sendiri yang mengatakan demikian; misalnya saja, Surat an-Nisa' (4:82); al-An'am (6:19); (6:92); an-Naml (27:6); al-Jatsiyah (45:2).Sebagian Muslim lainnya baru percaya setelah membaca dan memahami isinya dengan baik, berpikiran jernih, dan mau membuka hati dengan hal-hal yang baru. Tetapi dapat dipahami pula, karena "sumbernya dari dalam", bagi urang luar yang skeptis, pendapat apa saja dimungkinkan. Oleh karena itu, bagi orang luar, bukan kalangan Muslim atau siapa sajn, pilihannya adalah salah satu dari lima kemungkinan yang "mengarang al-Qur'an".

Pertama, Nabi Muhammad saw.
Kedua, para pujangga-ilmuwan Arab dan kumpulan cerita dari berbagai sumber.
Ketiga, merupakan jiplakan dari kitab suci Injil dan Taurat.
Keemyat, buatan makhluk asing.
Dan kelima, dari Tuhan.

Al-Qur' an berpandangan bahwa tidak ada paksaan dalam beragama. Ia mengatakan bahwa percaya atau tidaknya seseorang terhadap isi al-Qur'an, semata-mata karena hidayah Allah. Hidayah diberikan bagi yang mau berpikir jernih dan berprasangka baik. Sebagian Muslim makin percaya karena faktor-faktor eksternal, bukan hanya karena pernyataan al-Qur'an saja. Mereka berpikir begini. Pertarma, Muhammad saw terkenal karena kujujurannya, dapat dipercaya, dan bukan orang yang pandai membaca dan menulis. Di lain pihak, gaya bahasa al-Qur'an sangat berlainan dengan gaya bahasa Nabi ketika bertutur. Al-Qur'an selalu memakai gaya yang unik, dimulai dengan "Katakanlah", "ingatkah", "Tuhan berkata", "Mereka bertanya", dan sebagainya.
 
Kedua, ada puluhan surat dan ayat yang dimulai dengan huruf-huruf Arab, yang pada awalnya tidak diketahui maknanya. Huruf sisipan atau fawatih. Huruf-huruf ini tidak ada perlunya jika "makhluk biasa" yang membuat, karena tidak dimengerti oleh pembacanya hingga berabad-abad lamanya, membuat bingung.

Ketiga, sesuatu yang menarik lainnya, bahwa nama Muhammad hanya empat kali disebut dalam alQur an. Nama Adam as dan Isa as jauh lebih banyak disebut. Mereka disebut oleh al-Qur'an masing-masing 25 kali. Bahkan nama Musa as paling banyak disebut.

Keempat, cerita atau ungkapan sejarah serupa dengan cerita dalam kitab suci lainnya, namun sangat berbeda dalam detail dan maknanya. Beberapa kisah masa lalu, bahkan tidak ditemukan dalam kitab Yahudi atau Bibel. Seperti kisah bangsa Tsamud, Ad, kota Iram, dialog antara Nuh as dengan puteranya sebelum banjir terjadi, dan "percakapan semut yang didengar Sulaiman as".

Kelima, seruan al-Qur'an bukan saja ditujukan kepada semua manusia (di bumi dan langit--planet dan alam lainnya), tetapi juga golongan jin (beserta seluruh rasnya, seperti setan, iblis, ifrit, dan makhluk asing yang belum diketahui manusia). Ayat-ayat ini tidak ada perlunya bila "makhluk biasa" yang membuat, apa manfaatnya?

Keenam, rincian tentang malaikat, jin, penciptaan (banyak) alam semesta dan (banyak) bumi, fenomena ilmiah, di mana pengetahuan manusia belum atau baru saja mengetahui. 

Ketujuh, struktur kodetifikasi yang ditemukan dalam al-Qur'an, di mana ia mengatakan untuk menambah keimanan bagi orang yang beriman dan membuat tidak ragu bagi pembaca Kitab ini (al-Muddatstsir 74 : 30).

Beberapa faktor eksternal tersebut menyebabkan sebagian kaum Muslim makin percaya bahwa al-Qur'an kecil sekali kemungkinannya dibuat oleh makhluk biasa, baik manusia maupun jin. Kita juga harus ingat, kaum Muslim lainnya, yang bukan Islam karena "dilahirkan" - Islam karena "pindah agama atau mendapatkan agama", mereka mempunyai alasan yang Iebih spesifik.

Mushaf Utsmani adalah satu-satunya kitab, di mana enkripsi dan kodetifikasi bilangan prima ditemukan secara terstruktur, komprehensif, mulai dari yang paling sederhana hingga yang rumit.

Sejarah Ringkas Pemeliharaan al-Qur'an

Pada awal Islam, bangsa Arab adalah bangsa yang buta huruf, hanya sedikit yang pandai menulis dan membaca. Bahkan beberapa di antaranya merasa aib bila diketahui pandai menulis. Karena, orang yang terpandang pada saat itu adalah orang yang sanggup menghafal, bersyair, dan berpidato. Waktu itu belum ada "kitab". Kalaupun ada hanyalah sepotong batu yang licin dan tipis, kulit binatang, atau pelepah korma yang ditulis. Termasuk kutub, jamak kitab, yang dikirim oleh Nabi kepada raja-raja di sekitar Arab, sebagai seruan untuk masuk Islam.

Setiap kali turun ayat, Nabi menginstruksikan kepada para sahabat untuk menghafalnya dan menuliskannya di atas batu, kulit binatang dan pelepah korma. Hanya ayat-ayat al-Qur'an yang boleh ditulis. Selain ayat-ayat al-Qur' an, bahkan termasuk Hadis dan ajaran-ajaran Nabi yang didengar oleh para sahabat, di larang untuk dituliskan, agar antara isi al-Qur'an dengan yang lainnya tidak tercampur.

Setiap tahun, malaikat Jibril, utusan Tuhan mengulang (repetisi) membaca ayat-ayat al-Qur'an yang telah diturunkan sebelumnya di hadapan Nabi. Pada tahun Muhammad saw wafat, yaitu tahun 632 M, ayat-ayat al-Qur' an dibacakan dua kali dalam setahun. Ini menarik sekali, karena seolaholah akhir tugas dan kehidupan Nabi di dunia ini telah diantisipasi akan selesai. 

Pada masa khalifah pertama, Abu Bakar, banyak terjadi peperangan melawan orang-orang yang murtad dan para nabi palsu. Di antara mereka yang gugur dalam peperangan banyak penghafal ayat-ayat al-Qur'an. Umar bin Khaththab mengusulkan untuk mengumpulkan para penghafal al-Qur'an, disuruh membacakan al-Qur’an, menjadikan satu, meneliti dan menulis ulang. Kumpulan itu yang ditulis oleh Zaid bin Tsabit, mushaf, berupa lembaran-lembaran yang diikat menjadi satu, disusun berdasarkan urutan ayat dan surat seperti yang telah ditetapkan oleh Nabi sebelum wafat. Sedangkan pada masa Utsman bin Affan, tentara Muslim telah sampai ke Armenia, Azerbajan di sebelah Timur dan Tripoli di sebelah barat. Kaum Muslim terpencar di seluruh pelosok negeri, ada yang tinggal di Mesir, Syria, Irak, Persia dan Afrika. Naskah beredar di manamana, tetapi urutan surat dan cara membacanya beragam, sesuai dialek di mana mereka tinggal. Hal ini menjadikan pertikaian antarkaum Muslim sehingga menjadikan kekhawatiran pemerintahan Utsman. Maka kemudian Utsman membentuk panitia untuk membukukan ayat-ayat al-Qur'an dengan merujuk pada dialek suku Quraisy, sebab ayat al-Qur'an diturunkan dengan dialek mereka, sesuai dengan suku Muhammad saw. Buku tersebut diberi nama al-Mushaf, ditulis lima kopi dan dikirimkan ke empat tempat: Mekkah, Syria, Bashrah, dan Kufah. Satu kopi disimpan di Medinah sebagai arsip dan disebut Mushaf al-Imam.

Walaupun telah disatukan dan diseragamkan, namun tetap cukup banyak al-Qur'an di Afrika dengan dialek berbeda, termasuk jumlah ayat yang "berbeda" karena perbedaan membaca dalam pergantian nafas (6.666 ayat), tetapi isinya tetap sama. Awalnya, pada zaman Nabi, al-Qur'an memakai dialek Quraisy, tetapi kemudian berkembang menjadi tujuh dialek non-Quraisy. Pada mulanya, ini dimaksudkan agar suku-suku lain lebih mengerti. Ada juga aliran tersendiri (kelompok kecill, pimpinan Dr. Rashad Khalifa, kelahiran Mesir, seorang ahli biokimia dan matematika, yang mempromosikan jumlah ayat 6.234, berbeda 2 ayat dengan naskah Ustman, 6.236 ayat. Sedangkan mayoritas Muslim, baik Sunni maupun Syi ah tetap berpegang teguh pada naskah awal yang dikumpulkan semasa Khalifah Ustman, yaitu dialek Quraisy, hingga kini. Perbedaan kecil ini, menjadi sasaran kritik para Orientalis, bahwa al-Qur’ an tidak asli lagi, karena telah ada campur
tangan manusia dalam transmisinya. Walaupun demikian, sebagian di antara mereka, seperti Gibb, Kenneth Cragg, John Burton, dan Schwally dalam bukunya Mohammedanism, The Collection of the Qur’an , The Mind of the Qu'ran, dan Geschichte des Qorans, mengakui bahwa "sejauh pengetahuan kita, kita bisa yakin bahwa teks wahyu telah ditransmisikan sebagaimana apa yang telah diberikan kepada Nabi".